Jangan Sepelekan Profesi Sebagai Guru TK
Senin, 23 April 2018
Add Comment
Apakah kalian pernah mendengar, kalau profesi sebagai guru TK itu tidaklah sulit kerjaannya hanya bermain dengan Anak-anak? Banyak komentar yang seperti itu.
Iya sih, namanya juga TK (Taman Kanak-kanak) kebanyakan bermain ketimbang belajar, lebih tepatnya sih, bermain sambil belajar.
Perlu kita ketahui, kalau seorang guru TK itu tantangannya adalah harus bisa membuat skenario permainan yang didalamnya mengandung nilai-nilai yang edukatif dan bisa membuat permainan untuk menstimulasi kemampuan pada anak, seperti: keterampilan kognitif, kreativitas, berbahasa, motorik kasar, motorik halus, dan lainnya.
Anak TK itu bisa logic dan kritis. Jadi, Jangan pernah menyepelekan mereka.
Sebagai seorang guru TK saya peribadipun juga membaca materi pelajaran anak-anak SD ataupun SMP, sebagai amunisi untuk menghadapi anak-anak TK yang kritis.
Contohnya:
Ketika kita mengajar dengan tema “Tanah Airku”, kita membahas tentang keindahan alam yang ada di Indonesia, seperti hutan, laut, gunung dan sebagainya.
Kemudian, munculah pertanyaan dari mereka "Bu guru, kenapa gunung itu bisa meletus?" "Apa itu magma?
Tanpa kita sadari bahwa seorang guru harus banyak melahap ensiklopedia. Hehe Setuju iya..
Begitu banyak pertanyaan-pertanyaan cerdas yang keluar dari mulut mereka.
Untuk itu, sebagai seorang guru, kita harus tahu jawabannya supaya tidak membuat mereka kecewa. Harga diri kita akan jatuh kalau harus pending jawaban mereka. :)
Dan jika kita menjelaskan sesuatu pada anak TK yang kosa katanya masih minim dan sedang berkembang itu sebenarnya PR banget. Kita harus bisa menjelaskan sesuatu dengan kalimat yang simpel dan mudah dimengerti oleh mereka. Ini tantangan loh iya.
Sebagai guru TK kita diharuskan untuk banyak bergaul dengan mereka, masuk kedalam dunia mereka, dunia yang ASING untuk orang dewasa. Ya,Karena BAHASA kita tidak cukup mampu untuk berkomunikasi dengan mereka.
Ketika sedang mengajar, saya selalu berusaha untuk mengecilkan diri menjadi seusia anak TK. Tapi otakku sangat sulit diajak kompromi. Bagaimana saya harus menjelaskan kepada mereka tentang “enak”nya menjadi seorang dokter dibandingkan dengan menjadi tukang becak misalnya.
Anak TK masih belum memahami apa itu yang dinamakan dengan strata sosial. Mereka belum memahami apa itu kaya dan miskin. Anak sopir taksi tidak merasa minder bergaul dengan anak seorang bupati. Begitu juga anak seorang direktur, tidak merasa lebih keren dibanding dengan anak seorang TKW. Semua dianggap sama.
Bagi anak anak, ibu adalah ratu dunia, sedangkan ayah adalah pahlawan keluarga. Anak perempuan selalu ingin menjadi ibunya, sedangkan anak laki laki selalu ingin seperti ayahnya jika besar nanti. Biarpun profesi ayahnya itu cuma tukang ojek.
Walaupun anak TK sudah menyadari perbedaan jenis kelamin. Namun belum pernah aku lihat ada diskriminasi gender diantara mereka. Mereka tidak pernah membuat aturan bahwa anak laki laki harus bermain bola, sedang anak perempuan harus bermain boneka.
Bahkan kalau diluar sedang hujan, anak laki laki sering “menyerang” anak anak perempuan untuk bergabung main boneka bonekaan bersama. Sering pula anak anak perempuan “tidak tahan” menonton teman laki lakinya bermain bola, lalu ramai ramai “menyerbu”, ikut nimbrung bermain bola bersama anak laki laki. Mereka senang senang saja.
Bagi anak anak, alam selalu indah. Jika dirasakan ada yang tidak nyaman sedikit saja, mereka kontan menangis, dan urusan duniapun langsung selesai. Yang aneh, menangis bagi anak anak juga bisa menular seperti orang dewasa.
Sering ada kejadian, ada anak menangis meraung raung gara gara kaget karena terpeleset misalnya, anak anak lain yang tidak mengerti ujung pangkalnya juga ikut ikutan menangis. Lalu satu kelaspun menangis semua. Ruangan kelas langsung gaduh, ingus ingus bermeleran. Tas, pensil dan buku buku dibiarkan begitu saja.
Kalau sudah begini urusan jadi runyam. Ibu ibu pengantar yang menunggu diluarpun serentak menghentikan pengrumpian mereka yang lagi hot hotnya. Mereka ramai ramai menyerbu kedalam kelas. Masing masing mengelap airmata dan ingus putra putri mereka, mengemasi tas dan alat tulis yang masih berserakan. Semua sibuk dengan buah hati mereka.
Dalam hal terjadi ada “bencana” seperti ini, biasanya kami memulangkan mereka sebelum waktunya.Karena mustahil meredam huru hara seperti itu bisa kondusif dalam waktu yang singkat.
Mengajar TK harus serba bisa. Bisa menjadi perawat jika ada hidung yang bocor serta harus bisa menjadi babu saat ada celana mereka yang bocor. Menjadi guru TK juga mesti mampu berperan menjadi orang gila. Menyanyi, berjoget, menirukan suara kakek kakek, suara binatang atau bertindak menyeramkan seperti nenek sihir.
Saya selalu menepukkan tanganku untuk menarik perhatian mereka. Karena sering sekali terjadi mulutku sudah berbusa busa, anak anak malah asyik bermain sendiri dengan teman temannya.
Yang aku sukai dari anak anak adalah mata mereka. Mata yang yang selalu kagum terhadap apa saja. Mata yang menggambarkan suasana hati mereka. Mata anak anak selalu melihat dunia dalam pandangan Ilahiyah, jujur dan apa adanya. Ada sorga didalam setiap sorot mata anak anak.
Sayang sekali sebenarnya, ketika mata mata menarik itu setelah dewasa nanti akan menjadi mata yang tidak indah lagi. Menjadi mata yang suka menyelidik atau mata yang selalu menyembunyikan motif motif tertentu. Menjadi mata yang senantiasa menipu dirinya sendiri.
Anak TK masih belum memahami bagaimana nikmatnya kemashuran. Mereka belum mengerti bagaimana sakitnya dikhianati. Hati mereka masih polos, belum tumbuh iri dengki didalamnya.
Anak anak juga belum tahu apa itu rasa bangga ketika sukses meraih puncak karier. Mereka juga belum dapat membedakan rasa keren antara naik becak dengan menunggang mercy. Bagi mereka, hidup selalu menyenangkan. Kalau ada masalah mereka sangat mudah sekali menyelesaikannya, yaitu dengan menangis.
Dunia tidak pernah berubah, hanya manusianyalah yang berubah. Sesungguhnya kita juga tidak pernah berubah, kita masih tetap menjadi anak anak walaupun sudah dewasa. Hanya mainan mainan kita saja yang berubah. Kemashuran, ambisi, harga diri, kekuasaan dan kekayaan adalah mainan mainan kita yang baru.
Mainan istana istanaan yang kita buat dari pasir. Lalu kita mengagumi menara dan parit paritnya yang indah dan rapuh. Yang mudah sekali hancur disapu ombak pantai yang selalu datang kedalam kehidupan kita.
Setiap dunia memiliki kesadarannya sendiri sendiri. Masing masing tidak bisa diingat dan juga tidak bisa dimengerti. Kita tidak ingat dunia kita didalam kandungan dulu. Tekanan dunia sempit rahim ibu menyebabkan kita tidak bisa bertahan disitu.
Kita menangis ketika memasuki dunia baru, walaupun orang tua dan kerabat menyambut kita dengan gembira. Suatu saat kita juga tidak mampu mengatasi tekanan dunia baru kita ini. Kita akan masuk lagi dunia baru yang lain, namun sebaliknya, kerabat kita akan menangis mengiringi kepergian kita. Dan kitapun akan mengalami kesadaran baru lagi yang lebih unik. Bahwa istana yang kita bangun selama ini, ternyata memang cuma sebutir pasir.
Bagiku, menjadi Guru TK Itu Sangat Menyenangkan. Dan semua profesi itu memiliki kesulitan dan tantangan tersendiri.
Iya sih, namanya juga TK (Taman Kanak-kanak) kebanyakan bermain ketimbang belajar, lebih tepatnya sih, bermain sambil belajar.
Perlu kita ketahui, kalau seorang guru TK itu tantangannya adalah harus bisa membuat skenario permainan yang didalamnya mengandung nilai-nilai yang edukatif dan bisa membuat permainan untuk menstimulasi kemampuan pada anak, seperti: keterampilan kognitif, kreativitas, berbahasa, motorik kasar, motorik halus, dan lainnya.
Anak TK itu bisa logic dan kritis. Jadi, Jangan pernah menyepelekan mereka.
Sebagai seorang guru TK saya peribadipun juga membaca materi pelajaran anak-anak SD ataupun SMP, sebagai amunisi untuk menghadapi anak-anak TK yang kritis.
Contohnya:
Ketika kita mengajar dengan tema “Tanah Airku”, kita membahas tentang keindahan alam yang ada di Indonesia, seperti hutan, laut, gunung dan sebagainya.
Kemudian, munculah pertanyaan dari mereka "Bu guru, kenapa gunung itu bisa meletus?" "Apa itu magma?
Tanpa kita sadari bahwa seorang guru harus banyak melahap ensiklopedia. Hehe Setuju iya..
Begitu banyak pertanyaan-pertanyaan cerdas yang keluar dari mulut mereka.
Untuk itu, sebagai seorang guru, kita harus tahu jawabannya supaya tidak membuat mereka kecewa. Harga diri kita akan jatuh kalau harus pending jawaban mereka. :)
Dan jika kita menjelaskan sesuatu pada anak TK yang kosa katanya masih minim dan sedang berkembang itu sebenarnya PR banget. Kita harus bisa menjelaskan sesuatu dengan kalimat yang simpel dan mudah dimengerti oleh mereka. Ini tantangan loh iya.
Sebagai guru TK kita diharuskan untuk banyak bergaul dengan mereka, masuk kedalam dunia mereka, dunia yang ASING untuk orang dewasa. Ya,Karena BAHASA kita tidak cukup mampu untuk berkomunikasi dengan mereka.
Ketika sedang mengajar, saya selalu berusaha untuk mengecilkan diri menjadi seusia anak TK. Tapi otakku sangat sulit diajak kompromi. Bagaimana saya harus menjelaskan kepada mereka tentang “enak”nya menjadi seorang dokter dibandingkan dengan menjadi tukang becak misalnya.
Anak TK masih belum memahami apa itu yang dinamakan dengan strata sosial. Mereka belum memahami apa itu kaya dan miskin. Anak sopir taksi tidak merasa minder bergaul dengan anak seorang bupati. Begitu juga anak seorang direktur, tidak merasa lebih keren dibanding dengan anak seorang TKW. Semua dianggap sama.
Bagi anak anak, ibu adalah ratu dunia, sedangkan ayah adalah pahlawan keluarga. Anak perempuan selalu ingin menjadi ibunya, sedangkan anak laki laki selalu ingin seperti ayahnya jika besar nanti. Biarpun profesi ayahnya itu cuma tukang ojek.
Walaupun anak TK sudah menyadari perbedaan jenis kelamin. Namun belum pernah aku lihat ada diskriminasi gender diantara mereka. Mereka tidak pernah membuat aturan bahwa anak laki laki harus bermain bola, sedang anak perempuan harus bermain boneka.
Bahkan kalau diluar sedang hujan, anak laki laki sering “menyerang” anak anak perempuan untuk bergabung main boneka bonekaan bersama. Sering pula anak anak perempuan “tidak tahan” menonton teman laki lakinya bermain bola, lalu ramai ramai “menyerbu”, ikut nimbrung bermain bola bersama anak laki laki. Mereka senang senang saja.
Bagi anak anak, alam selalu indah. Jika dirasakan ada yang tidak nyaman sedikit saja, mereka kontan menangis, dan urusan duniapun langsung selesai. Yang aneh, menangis bagi anak anak juga bisa menular seperti orang dewasa.
Sering ada kejadian, ada anak menangis meraung raung gara gara kaget karena terpeleset misalnya, anak anak lain yang tidak mengerti ujung pangkalnya juga ikut ikutan menangis. Lalu satu kelaspun menangis semua. Ruangan kelas langsung gaduh, ingus ingus bermeleran. Tas, pensil dan buku buku dibiarkan begitu saja.
Kalau sudah begini urusan jadi runyam. Ibu ibu pengantar yang menunggu diluarpun serentak menghentikan pengrumpian mereka yang lagi hot hotnya. Mereka ramai ramai menyerbu kedalam kelas. Masing masing mengelap airmata dan ingus putra putri mereka, mengemasi tas dan alat tulis yang masih berserakan. Semua sibuk dengan buah hati mereka.
Dalam hal terjadi ada “bencana” seperti ini, biasanya kami memulangkan mereka sebelum waktunya.Karena mustahil meredam huru hara seperti itu bisa kondusif dalam waktu yang singkat.
Mengajar TK harus serba bisa. Bisa menjadi perawat jika ada hidung yang bocor serta harus bisa menjadi babu saat ada celana mereka yang bocor. Menjadi guru TK juga mesti mampu berperan menjadi orang gila. Menyanyi, berjoget, menirukan suara kakek kakek, suara binatang atau bertindak menyeramkan seperti nenek sihir.
Saya selalu menepukkan tanganku untuk menarik perhatian mereka. Karena sering sekali terjadi mulutku sudah berbusa busa, anak anak malah asyik bermain sendiri dengan teman temannya.
Yang aku sukai dari anak anak adalah mata mereka. Mata yang yang selalu kagum terhadap apa saja. Mata yang menggambarkan suasana hati mereka. Mata anak anak selalu melihat dunia dalam pandangan Ilahiyah, jujur dan apa adanya. Ada sorga didalam setiap sorot mata anak anak.
Sayang sekali sebenarnya, ketika mata mata menarik itu setelah dewasa nanti akan menjadi mata yang tidak indah lagi. Menjadi mata yang suka menyelidik atau mata yang selalu menyembunyikan motif motif tertentu. Menjadi mata yang senantiasa menipu dirinya sendiri.
Anak TK masih belum memahami bagaimana nikmatnya kemashuran. Mereka belum mengerti bagaimana sakitnya dikhianati. Hati mereka masih polos, belum tumbuh iri dengki didalamnya.
Anak anak juga belum tahu apa itu rasa bangga ketika sukses meraih puncak karier. Mereka juga belum dapat membedakan rasa keren antara naik becak dengan menunggang mercy. Bagi mereka, hidup selalu menyenangkan. Kalau ada masalah mereka sangat mudah sekali menyelesaikannya, yaitu dengan menangis.
Dunia tidak pernah berubah, hanya manusianyalah yang berubah. Sesungguhnya kita juga tidak pernah berubah, kita masih tetap menjadi anak anak walaupun sudah dewasa. Hanya mainan mainan kita saja yang berubah. Kemashuran, ambisi, harga diri, kekuasaan dan kekayaan adalah mainan mainan kita yang baru.
Mainan istana istanaan yang kita buat dari pasir. Lalu kita mengagumi menara dan parit paritnya yang indah dan rapuh. Yang mudah sekali hancur disapu ombak pantai yang selalu datang kedalam kehidupan kita.
Setiap dunia memiliki kesadarannya sendiri sendiri. Masing masing tidak bisa diingat dan juga tidak bisa dimengerti. Kita tidak ingat dunia kita didalam kandungan dulu. Tekanan dunia sempit rahim ibu menyebabkan kita tidak bisa bertahan disitu.
Kita menangis ketika memasuki dunia baru, walaupun orang tua dan kerabat menyambut kita dengan gembira. Suatu saat kita juga tidak mampu mengatasi tekanan dunia baru kita ini. Kita akan masuk lagi dunia baru yang lain, namun sebaliknya, kerabat kita akan menangis mengiringi kepergian kita. Dan kitapun akan mengalami kesadaran baru lagi yang lebih unik. Bahwa istana yang kita bangun selama ini, ternyata memang cuma sebutir pasir.
Bagiku, menjadi Guru TK Itu Sangat Menyenangkan. Dan semua profesi itu memiliki kesulitan dan tantangan tersendiri.

0 Response to "Jangan Sepelekan Profesi Sebagai Guru TK"
Posting Komentar
Silahkan Berkomentar Sesuka Hatimu Mengenai Artikel Diatas, Tapi Ingat Jangan Berkomentar Tentang Perjudian, SARA dan PORNO. Terutama Komentar SPAM akan langsung di Hapus dan Silahkan Juga Meninggalkan Link Kalian disini